Beranda Trending Kelemahan Israel Ini Disinyalir Mampu Membuat Palestina Merdeka

Kelemahan Israel Ini Disinyalir Mampu Membuat Palestina Merdeka

Kelemahan Israel Ini Disinyalir Mampu Membuat Palestina Merdeka (Foto: AFP/HANDOUT)

Perselisihan yang semakin besar dalam konflik Hamas versus Israel memunculkan pertanyaan terkait tujuan dari kedua belah pihak, terutama pihak Israel yang terus menyerang Hamas. 

Analis politik Sherit Avitan Cohen menilai, dalam laporan yang ditulisnya, bahwa tampaknya para pemimpin Israel terbagi dalam dua golongan terkait invasi darat tentara Israel ke Gaza.

Masing-masing dari mereka memiliki tujuan tersendiri, satu sisi ingin melemahkan Hamas dengan target militer Palestina dan disisi lain ingin kekalahan Hamas secara total dengan target random (siapapun).  

Cohen menyoroti perbedaan sikap yang diambil oleh berbagai faksi dalam pemerintahan Israel. Di satu sisi, kabinet berpendapat bahwa tujuan utama invasi darat adalah untuk melemahkan Hamas, dengan menargetkan kemampuan dan pengaruh militernya.

“Namun, pasukan pendudukan Israel dan juru bicara mereka mempunyai pandangan berbeda. Mereka mengartikulasikan tujuan yang lebih ringkas dan agresif: kekalahan Hamas dan pemusnahan semua individu yang terlibat dalam Operasi Banjir Al-Aqsa,” tukas Cohen, sebagaimana dilansir dari Tribunnews, Selasa (17/10/2023).

Perbedaan tujuan ini mengindikasikan bahwa kurangnya konsensus dan kesatuan dari para pemimpin Israel dalam menentukan arah tujuan dan sasaran operasi militer. Sehingga hal ini tentu saja dapat menjadi suatu kelemahan bagi Israel kedepannya.

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyatakan jika invasi darat Israel ke jalur Gaza tidak sesederhana itu atau berpotensi memicu konflik lain sebagai imbasnya. 

Hal ini senada dengan laporan dari Bloomberg yang menyebutkan jika Pemerintah Amerika Serikat khawatir Israel terlalu fokus pada invasi Gaza sehingga tak memiliki rencana untuk memberi solusi yang berkelanjutan. Walaupun, Amerika Serikat diketahui siap memberikan dukungan tanpa syarat terhadap Israel, tetapi tetap saja mereka mengkhawatirkan dampak selanjutnya. 

“Pemerintah Amerika Serikat khawatir Israel terlalu terpaku pada invasi Gaza, sehingga tak memiliki rencana kuat yang dapat memberikan solusi berkelanjutan. Meski Amerika Serikat menjanjikan dukungan tanpa syarat ke Israel, tetapi mereka khawatir akan kemungkinan dampak dari invasi darat ke tersebut.”

Pasalnya, dampak dari invasi darat tersebut bisa berkembang menjadi perang regional yang akan melibatkan pihak lain.

Misalnya, ikut campurnya Hizbullah (sebuah organisasi politik dan paramiliter yang berbasis di Lebanon), nasib para tawanan, dan akan membuat Israel maupun Amerika Serikat akan mendapat tekanan dari dunia internasional akibat jatuhnya korban dari kalangan sipil Palestina.

Hal ini tentu akan membahayakan kesepakatan normalisasi dengan dunia Arab. 

Perbedaan tujuan invasi darat ke jalur Gaza dan kekhawatiran Amerika Serikat ini akan menjadi kelemahan Israel yang bisa digunakan pihak Palestina untuk memerdekakan diri.

Lebih-lebih, saat ini disinyalir bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menghadapi “hari penghakiman”.

Ribuan warga Israel marah atas sikap Netanyahu terhadap invasi ini dikarenakan banyaknya korban sipil dari pihak warga Israel. Padahal, Netanyahu mengklaim dirinya sebagai ahli strategi Churchillian yang siap mengamankan Israel dari apapun, termasuk serangan Hamas. 

Hal ini akan membuat PM Netanyahu harus siap digulingkan sebagaimana pendahulunya. Dalam sebuah survey disebutkan bahwa lebih dari 66% rakyat Israel ingin Netanyahu digeser dari kursi perdana menteri supaya diganti orang yang lebih berkompeten. 

Pada sebuah survei rilisan surat kabar Maarif menyebutkan bahwa 21% warga Israel ingin Netanyahu tetap menjadi perdana menteri setelah perang. Namun, sebanyak 66% mengatakan ingin menggantikan Netanyahu dengan orang lain. Sementara, sebanyak 13% warga Israel memilih ragu-ragu. 

Warga dan beberapa petinggi Israel menyatakan bahwa PM Netanyahu telah gagal mengantisipasi dan mencegah serangan terburuk terhadap warga sipil dalam sejarah Israel.

Editor: Muhammad Fauzi
Sumber: 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan